insinerasi limbah B3

Insinerasi dinilai sebagai salah satu metode pengelolaan limbah B3 yang efektif.

Insinerasi limbah B3 merupakan teknik pengolahan limbah B3 yang dapat memusnahkan komponen berbahaya dan beracun pada limbah dengan cara membakar menggunakan temperatur optimum sebesar 1400 – 1800 Fahrenheit.

Tujuan dari metode Insinerasi limbah B3 yaitu mereduksi volume dan jumlah limbah B3 hingga 90% dan 75%. Hal ini dapat terjadi karena prinsip pengolahannya mampu mengkonversi atau merubah materi padat menjadi abu dan gas.

Selain itu, penggunaan teknologi insinerasi dapat menghasilkan suatu energi, sehingga menurut Reinhardt dalam Pengelolaan Limbah Menular dan Limbah Medik (Buku I dan II), penggunaan insinerasi dalam pengelolaan limbah B3 dianggap sebagai salah satu cara pengelolaan limbah yang ideal.

Pengoperasian menggunakan teknologi insinerasi limbah B3 tentu saja tidak mudah karena diperlukan pertimbangan yang matang seperti suplai oksigen yang cukup, apabila kurang, maka hasil samping dari pembakaran ini berupa karbon monoksida mampu mengganggu kesehatan masyarakat dan pencemaran udara.

Nilai kandungan energi atau heating value limbah B3 juga menjadi aspek penting dalam proses insinerasi, dimana menentukan jumlah energi yang dapat dihasilkan dari sistem insinerasi dan mempertahankan keberlangsungan proses pembakaran. Selain itu, terdapat faktor lainnya yang mampu mempengaruhi keefektifan insinerasi, yaitu:

  1. Waktu tinggal
  2. Temperatur
  3. Turbulensi
  4. Jenis atau komposisi limbah B3
  5. Berat limbah

 

 

Proses Insinerasi Limbah B3

Proses insinerasi limbah B3 berlangsung secara bertahap. Dimana terdiri dari tiga tahap sebagai berikut:

  1. Tahap Pengeringan. Tahap pertama ini dilakukan dengan cara menguapkan kandungan air dari limbah B3 menggunakan energi panas matahari kurang lebih 6 hari di tempat khusus pengeringan yang disebut bunker.
  2. Tahap Pirolisis. Pada tahap ini terjadi proses dekomposisi termokimia limbah B3 melalui pembakaran menggunakan temperatur lebih rendah dibandingkan tahap berikutnya.
  3. Tahap Pembakaran Sempurna. Tahap terakhir dari insinerasi, dimana menggunakan temperatur yang lebih tinggi untuk membentuk pembakaran yang sempurna.

 

 

Insinerasi Limbah B3 Cocok untuk Segala Jenis Limbah

Menurut Environmental Protection Agency atau EPA dan operasional industri, pengelolaan limbah B3 menggunakan teknologi insinerasi adalah salah satu teknologi terbaik yang dapat digunakan untuk berbagai jenis limbah.

Sedangkan menurut utami et al. dalam Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan Vol. 7 No. 2, teknologi insinerasi adalah pengolahan yang baik bagi limbah B3 yang memiliki nilai kalor yang memadai dan mudah terbakar seperti limbah bersifat infeksius dan patogenik.

 

 

Jenis-Jenis Insinerator

Insinerator merupakan alat atau teknologi yang digunakan untuk proses insinerasi limbah B3. Insinerator terdiri dari berbagai macam jenis, antara lain:

  1. Incinerator Rotary Kiln. Proses pembakaran limbah B3 pada Incinerator Rotary Kiln menggunakan sistem perputaran untuk memperoleh pembakaran yang merata ke seluruh bagian. Dimana Teknologi insinerasi limbah B3 ini terdapat dua kali proses pembakaran, yaitu ada primary chamber dan secondary chamber dan cocok untuk mengolah limbah B3
  2. Fluidized Bed Incinerator. Teknologi insinerasi limbah B3 ini berbentuk tungku yang menggunakan media pengaduk berupa pasir silika atau pasir kuarsa sehingga terjadinya pencampuran homogen antara butiran pasir dan udara. Untuk mendukung proses pembakaran yang sempurna dan laju perpindahan panas yang cepat maka proses pencampuran pada Fluidized Bed Incinerator perlu dipastikan konstan antara partikel-partikel.
  3. Multiple Hearth Incinerator, Single Chamber Incinerator, Aqueous Waste Injection Incinerator, dan lain-lain.

 

Kekurangan dan Kelebihan Insinerasi Limbah B3

Kelebihan dari pengolahan limbah B3 menggunakaan metode insinerasi, antara lain:

  • Pengolahan dapat dilakukan untuk seluruh jenis limbah B3
  • Volume dan jumlah limbah B3 yang tereduksi berkisar 75%-90%
  • Dapat menjadi sumber energi
  • Pengolahan tidak dipengaruhi oleh iklim
  • Dapat mereduksi volume dan jumlah limbah B3 dalam waktu yang singkat
  • Mengurangi jumlah timbulan limbah B3 di Tempat Pembuangan Akhir
  • Mengurangi kandungan berbahaya yang tercemar pada lingkungan
  • Abu hasil pembakaran dapat dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai ekonomi

Disamping kelebihan dari penggunaan metode insinerasi, tentu terdapat kekurangannya yaitu:

  • Berpotensi sebagai pencemar udara apabila tidak dilengkapi dengan pengolahan gas buang
  • Pelepasan sejumlah besar CO2
  • Hasil abu pembakaran mencapai 20% dari limbah B3 yang dibakar
  • Biaya operasional yang cukup besar
  • Diperlukan peralatan pengolahan gas buang basah setelah proses pembakaran
  • Berpotensi pencemar emisi partikulat akibat kandungan abu

 

Dibalik sebuah kelebihan tentu erat dengan beberapa kekurangan. Oleh karena itu, dalam menyeimbangkan kedua hal tersebut diperlukan pertimbangan dan penyesuaian terhadap jenis limbah B3 yang akan diolah sehingga dapat mengoptimalkan pemanfaatannya.