Indonesia menempati ranking kedua sebagai penghasil sampah plastik terbanyak di dunia pada tahun 2014. Diperkuat oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia yang menyebutkan jumlah peningkatan timbunan sampah di Indonesia mencapai 175.000 ton/hari atau setara 64 juta ton/tahun. Jika tidak ditanggulangi, maka sangat memungkinkan sampah dapat memenuhi seluruh permukaan Bumi.

Oleh karena itu, menangani beragam permasalahan tersebut diperlukan pemahaman masyarakat terkait pentingnya sikap peduli terhadap lingkungan dan penanganan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir untuk meminimalisir dampak negatif yang dihasilkan. Salah satunya dengan 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Implementasi prinsip tersebut sesuai dengan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008, dimana menerapkan pengurangan dan/atau pemanfaatan sampah, dengan cara menggunakan bahan baku produksi yang menimbulkan buangan seminimal mungkin, didaur ulang, dapat diguna, dan mudah terurai oleh proses alam.

Prinsip 3R masih menjadi cara terbaik dalam mengelola dan menangani sampah. Prinsip ini bisa dilakukan oleh setiap pihak dalam kegiatan sehari-hari dan dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap lingkungan.

Konsep 3R (reduce, reuse, recycle)

Konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) membantu mengurangi volume sampah di TPA

 

Reduce

Reduce merupakan prinsip kedua dari paradigma hierarki penanganan sampah dengan mengurangi penggunaan produk yang berpotensi menjadi sampah. Menurut United States Environmental Protection Agency, manfaat yang dapat diperoleh dari reduce antara lain:

  • Mengurangi timbulan sampah
  • Pencegahan pencemaran lingkungan (air, tanah, dan udara) yang disebabkan dari penanganan sampah yang tidak tepat
  • Menghemat energi
  • Mengurangi emisi gas rumah kaca

Tahapan ini menjadi langkah pertama sekaligus prioritas dalam mengurangi permasalahan lingkungan saat ini. Dimana dapat mengurangi produk sampah sekali pakai dan produk yang sulit didaur ulang. Dalam kehidupan sehari-hari tahap ini dapat dilakukan dengan:

  • Menghindari botol minum, alat makan, kantong plastik, tisu, dan produk lainnya yang bersifat sekali pakai
  • Penggunaan produk berkualitas baik dan tahan lama
  • Penggunaan produk secukupnya dan sebutuhnya
  • Pemilihan produk yang dapat digunakan kembali (seperti diisi ulang) dan mudah terurai
  • Memanfaatkan teknologi untuk mengurangi penggunaan produk (contoh: pengiriman berkas data menggunakan email)
  • Menggunakan sumber energi yang berasal dari sampah

 

Reuse

Tahap kedua yaitu Reuse yang berarti menggunakan kembali produk yang sudah terpakai dengan mengalihfungsikan produk sehingga sampah yang timbul dapat berkurang. Dimana prinsip ini merupakan tingkatan kedua dari paradigma hierarki penanganan sampah. Reuse merupakan prinsip yang mempertimbangkan suatu nilai kegunaan produk sebelum dibuang.

Apabila kita menerapkan prinsip ini, maka kita turut memperpanjang waktu pemakaian barang sebelum berakhir menjadi sampah. Sedangkan, manfaat lainnya adalah:

  • Mengurangi biaya penanganan sampah
  • Berkurangnya pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh timbunan sampah
  • Menambah nilai kegunaan produk

Adapun kegiatan sehari-hari yang bisa kita lakukan dengan prinsip reuse ini, yaitu:

  • Penggunaan kembali kantong belanja maupun botol plastik
  • Pemakaian kertas bekas yang memiliki sisi kosong untuk kebutuhan penulisan atau percetakan
  • Penggunaan kembali baterai yang dapat diisi ulang
  • Memperbaiki produk yang rusak untuk mengembalikan nilai guna

 

Recycle

Pilihan terakhir dari penanganan sampah yaitu Recycle, yang berarti mendaur ulang. Daur ulang adalah proses pengelolaan dengan mengubah sampah menjadi bahan baku untuk membuat produk baru yang bernilai ekonomis dan estetik. Berdasarkan hierarki pengelolaan sampah, penerapan prinsip Recycle merupakan pilihan keempat dari penanganan sampah yang membutuhkan biaya lebih tinggi dibandingkan Reduce dan Reuse karena prinsip Recycle pada umumnya menggunakan bantuan teknologi dalam pengelolaannya.

Meskipun begitu, penerapan Recycle memiliki berbagai manfaat seperti yang dilansir dari Stanford Land, Buildings & Real Estate. Manufaktur kaleng alumunium daur ulang pada umumnya hanya menggunakan 5% energi dibandingkan manufaktur kaleng alumunium yang menggunakan bahan baku bauksit dari alam. Sedangkan manfaat lainnya yaitu:

  • Mewujudkan sirkular ekonomi dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia
  • Menambah nilai ekonomis produk dan penghasilan
  • Menghasilkan produk dengan nilai estetika yang tinggi
  • Menciptakan lapangan pekerjaan
  • Efisiensi penggunaan sumber daya dan energi

 

Penerapan prinsip recycle ini dapat dilakukan dengan mudah pada kehidupan sehari-hari seperti:

  1. Mengolah kemasan plastik menjadi biji plastik yang dapat digunakan kembali sebagai sumber bahan baku produk plastik lainnya
  2. Mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos
  3. Mengolah kain-kain yang tidak digunakan menjadi produk baru seperti selimut, baju, dan sebagainya
  4. Mengubah kaleng bekas menjadi pot bunga
  5. Mengolah kembali kertas bekas menjadi kertas baru

 

 

Berawal dari langkah kecil dengan bersikap peduli dan menghargai lingkungan hingga melakukan pemilahan sampah mulai dari rumah dengan konsep 3R (Reduce, Reuse dan Recycle) bisa menjadi dampak positif yang signifikan bagi lingkungan. Kebiasaan lama sudah seharusnya diperangi bersama karena masa depan lingkungan yang lebih baik diperoleh dari pengorbanan seluruh orang. Universal Eco sebagai jasa pengelolaan limbah siap bersama mewujudkan Indonesia bebas sampah dengan program 3R yang dilakukan melalui daur ulang kemasan plastik menjadi sumber bahan baku (biji plastik), pencucian kemasan untuk dapat digunakan kembali oleh produsen, dan sebagainya.