Limbah kain adalah sisa kain yang bersumber dari proses produksi konveksi dan garmen berskala kecil hingga besar, seperti proses pemotongan kain, pewarnaan, dan pengemasan maupun pasca konsumsi masyarakat.

Limbah ini sering dianggap sebelah mata karena tidak berpotensi mencemari lingkungan dan tidak memiliki manfaat. Padahal nyatanya, limbah kain dapat digunakan kembali dan bersifat ekonomis.

Oleh karena itu, penanganan yang tepat memang harus dilaksanakan dan didukung penuh oleh seluruh stakeholder. Limbah kain pada umumnya memiliki karakteristik sebagai berikut:

  • Mengandung polyester (plastik)
  • Menggunakan pewarna sintetik
  • pH yang tinggi (> 7)
  • Memiliki kandungan COD dan BOD yang tinggi
  • Sulit terurai secara alami

 

Jenis dan Contoh Limbah Kain

Pada umumnya jenis-jenis limbah kain memiliki wujud yang beragam, yaitu padat dan cair.

 

Limbah Berwujud Padat

Contoh limbah kain berwujud padat ini antara lain, kain perca, produk jadi seperti pakaian dalam, celana, kaos, kemeja, bed cover, batik, selendang, aksesoris pakaian dan sebagainya.

 

Limbah Berwujud Cair

Limbah dengan wujud cair merupakan hasil samping dari produksi pakaian seperti proses pewarnaan ke produk, finishing produk, pelarutan zat pewarna, dan lain-lain, dimana menggunakan air bersih kurang lebih sebesar 2700 liter yang setara dengan 3 tahun konsumsi air minum hanya untuk memproduksi kaos.

Jenis polutan limbah kain yang dihasilkan antara lain, NaOH, Na(OCl), larutan asam, pewarna (krom), detergen, Na2CO3, dan lemak. Bisa dibayangkan, berapa air bersih yang dihabiskan dan air limbah yang dihasilkan hanya untuk menghasilkan ribuan produk yang dihasilkan

 

Bahaya atau Dampak Negatif Limbah Kain

Dalam memproduksi kain, jenis bahan dan pewarna menjadi sumber dasar yang memiliki impact besar terhadap proses produksi sehingga dibutuhkan dalam kuantitas yang besar.

Oleh karena itu, diperlukan adanya keseimbangan antara pemasok kebutuhan dan sistem produksi yang berjalan. Namun, kegiatan tersebut tentunya secara tidak langsung memberikan dampak yang besar pula, antara lain:

  • Menghasilkan mikroplastik akibat pelepasan plastik yang terkandung didalam kain
  • Berkurangnya oksigen terlarut pada kawasan perairan yang tercemar
  • Terganggunya keseimbangan ekosistem perairan maupun darat akibat pemakaian pestisida berlebihan dan air limbah
  • Menghalangi proses fotosintesis biota air akibat pencemaran zat pewarna di kawasan perairan
  • Meningkatkan senyawa fosfat dan merangsang pertumbuhan ganggang atau eceng gondok pada permukaan air
  • Berkurangnya air bersih akibat pemakaian proses produksi yang berlebihan dan efek pencemaran air tanah maupun permukaan air

 

Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah Kain

llimbah kain dapat dimanfaatkan kembali

limbah kain dapat diolah menjadi produk yang bernilai

Kegiatan pemanfaatan atau pengelolaan limbah kain yang berkelanjutan, tidak selalu berkaitan dengan teknologi saja, tetapi bagaimana mencari titik temu antara dampak lingkungan, sosial, dan pemenuhan kebutuhan saat ini.

 

Reuse atau Penggunaan Kembali Limbah Kain

Prinsip pemanfaatan ini dapat dilakukan dengan melakukan tukar kain atau pembelian kain sisa produksi yang masih dapat digunakan kembali sesuai dengan fungsi yang sama. Dengan menerapkan prinsip ini maka kita sama saja berkontribusi dalam menekan angka pemakaian kain baru.

 

Daur Ulang

Pelaku kreatif adalah andil yang besar dalam mendorong terciptanya produk unggulan yang berasal dari daur ulang limbah kain sehingga mampu bersaing di pasaran. Daur ulang sebagai salah satu proses pengolahan yang mampu menjadikan limbah kain menjadi produk baru dengan tujuan mengurangi penggunaan bahan baku baru, pengurangan energi, kenaikan emisi, dan pengurangan volume limbah di TPA.

Sebagai contoh, limbah kain perca dapat digunakan kembali untuk membuat produk seperti tas unik dan keset rumah.

 

Pemusnahan Limbah Kain

Dengan meningkatnya limbah kain di Tempat Pembuangan Akhir, pemusnahan menggunakan insinerator menjadi salah satu solusi pengolahan untuk mengurangi volume limbah kain yang menggunung. Dimana alat pemusnahan tersebut mampu mereduksi 70% sampai 90% dari total volume timbulan limbah kain.